Filsafat Dialog dan Tantangan Toleransi Beragama dalam Masyarakat Multikultural
DOI:
https://doi.org/10.59066/jspk.v2i2.2328Keywords:
Alteritas, Dialog antaragama, Filsafat Dialog, Masyarakat multikultural, Toleransi beragamaAbstract
Dalam dunia yang semakin plural dan saling terhubung, masyarakat multikultural menjadi realitas sosial yang tidak terhindarkan. Perbedaan agama, budaya, dan pandangan hidup menuntut adanya upaya serius untuk membangun toleransi dan harmoni. Tulisan ini bertolak dari perspektif filsafat dialog, terutama pemikiran Hans-Georg Gadamer, Martin Buber, dan Raimon Panikkar, sebagai dasar refleksi kritis atas relasi antarumat beragama dalam konteks masyarakat multikultural. Filsafat dialog menekankan pentingnya keterbukaan, pengakuan atas alteritas (keterbedaan), dan sikap saling mendengarkan sebagai jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Namun demikian, penerapan filsafat dialog menghadapi berbagai tantangan, seperti eksklusivisme teologis, fanatisme agama, politik identitas, dan ketimpangan sosial-budaya. Kajian ini menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar sikap pasif menerima perbedaan, melainkan sebuah proses dialogis yang aktif dan reflektif. Oleh karena itu, filsafat dialog menawarkan kerangka etis dan epistemologis yang relevan untuk memperkuat toleransi beragama di tengah kompleksitas masyarakat multikultural.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Sosiologi Pendidikan Kolaboratif

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










