Kepastian Hukum Pelecehan Seksual Nonfisik dalam Pasal 5 UU TPKS: Analisis Prinsip Lex Certa
Main Article Content
Abstract
The arrangement of the phrase "non-physical sexual act" in Article 5 of Law No. 12 of 2022 concerning Sexual Violence Crimes (UU TPKS) creates legal ambiguity. The use of subjective and unmeasurable parameters such as "improper" in the elucidation section contradicts the principle of legal certainty. This study aims to analyze the phrase's conformity with the lex certa principle and formulate the appropriate normative wording to reflect legal certainty. This legal research utilizes a conceptual approach, statutory approach and a comparative approach, employing prescriptive analysis techniques. The results indicate that the current formulation of Article 5 fails to meet the lex certa standard because the specific behaviors of the criminal act are not contained in the main body of the law but are placed in the elucidation, and the measurement relies on standards that are highly subjective and culturally fluctuating. In conclusion, Article 5 of UU TPKS fails to provide clear boundaries of criminality (foreseeability) for citizens. It is recommended that legislators reconstruct Article 5 by stipulating the specific forms of actions (verbal, gestural, visual, and psychological) directly within the main body of the law and adopting the objective standard of the Reasonable Person Test.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Afdhali, D. R. (2023). Idealitas penegakkan hukum ditinjau dari perspektif teori tujuan hukum. Collegium Studiosum Journal.
Australian Government. (1984). Sex Discrimination Act 1984 (Cth), s 28A.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.
Chazawi, A. (2002). Pelajaran hukum pidana bagian 1: Stelsel pidana, tindak pidana, teori-teori pemidanaan & batas berlakunya hukum pidana. RajaGrafindo Persada.
Hariyadi, N. S., & Sambas, N. (2025). Transformasi Pengaturan Pelecehan Seksual Fisik dan Non-Fisik: Analisis Yuridis Normatif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora Dan Politik, 5(6), 5073–5080. https://doi.org/10.38035/jihhp.v5i6.5551
Hart, H. L. A. (2012). The concept of law (3rd ed.). Oxford University Press.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2024). CATAHU 2023: Peluang penguatan sistem penyikapan di tengah peningkatan kompleksitas kekerasan terhadap perempuan.
LPPM UPN Veteran Jawa Timur. (2024). Kuliah tamu: Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan literasi digital. PUI-PT Perempuan, Anak & Kesetaraan.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2006). Putusan Nomor 013-022/PUU-IV/2006.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. (2021). Putusan Nomor 21/PUU-XIX/2021.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Ed. rev., Cet. 13). Kencana.
Nasihuddin, A. A. (2024). Teori hukum Pancasila (Vol. 1, Ed. 1). CV. Elvaretta Buana.
Nova, E. (2025). Implikasi Yuridis Pembuktian Tindak Pidana Kekerasan Seksual Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Bagi Pembenuhan Keadilan Korban. Unes Journal of Swara Justisia, 9(1), 208-219. https://doi.org/10.31933/vfqn8k12
Rawls, J. (1971). A theory of justice. Harvard University Press.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022.
Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Schauer, F. (2013). On the open texture of law. Grazer Philosophische Studien, 87(1), 197–215.
Sex Discrimination Act 1984 (Cth). (Austl.).
Simons, D. (1981). Kitab pelajaran hukum pidana. Pionir Jaya.
Simons, J. (1981). Kitab pelajaran hukum pidana (Ed. 3). Penerbit Pionir Jaya.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (2023).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. (2011).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. (2022).
Wantu, V. M. (2011). Ideologi hakim dalam memutus perkara: Antara kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Pustaka Pelajar.
Warneri, M. R., Paulina, A. L., & Maharani, M. (2023). Modul penanganan tindak pidana kekerasan seksual. Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia.
Zahra, A. (2024). Komnas Perempuan catat 289 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan. IDN Times.